Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 November 2015

Perlindungan dari Kesia-siaan

"SESIAPA YANG DIKEHENDAKI BERADA DALAM KEBAIKAN KAN DILINDUNGI DARI SIA-SIANYA PERKATAAN"


Setiap perkataan, sebagaimana perbuatan, takkan satu pun terluput dari perhitungan, yang buruk kan dipertanggungjawabkan, yang baik kan ditanya niatnya. Yang tak buruk dan tak baik kan menjadi kesia-siaan. Dan jangan kira yang sia-sia kan dibiarkan saja. Ia pun kan ditanya, apa pasal waktu dan kemampuan yang tersedia tak digunakan dalam kebaikan.

Maka para shalih adalah orang-orang yang amat cermat dalam tiap perkataan. Kaidahnya adalah pastikan setiap kata mengantar pada kebaikan atau diam, sebab dalam diam setidaknya ada keselamatan.
Itu para shalih. Yang dalam hatinya memang hampir tak bersisa kecuali keimanan. Bagaimana dengan diri yang jauh dari keshalihan?

Mudah-mudahan. Dia berikan setidaknya penjagaan. Yakni jika pun belum teguh niat tuk menghindarkan diri dari kesia-siaan, moga dilindungi darinya. Pernahkah terbesit niat bersia-sia, lalu Dia sulitkan perjalanan? Pernahkah tergerak diri melakukan sesuatu, lalu diaturkan-Nya kewajiban lain tuk dipenuhi? Pernahkah hendak bertemu dengan seseorang dan tiba-tiba ia membatalkan sebab beragam alasan?

Bisa jadi, ya, bisa jadi, itulah cara Dia menghindarkan diri ini dari kesia-siaan. Sebab kita mungkin waspada dari berbuat dosa, namun sungguh jebakan kesia-siaan begitu samar tuk dielakkan. Maka bersyukurlah wahai diri, kala dihindarkan, sebab Dia masih restui diri ini berada di jalan kebaikan.

Selasa, 20 Januari 2015

Kepintaran si Bodoh

Suatu hari, ada seorang pengusaha memotong rambut di tukang cukur sekitar kantornya. Tak berapa lama, datanglah seorang anak kecil berusia sepuluh tahunan berlari-lari dan melompat-lompat di sekitar tukang cukur tersebut.
"Anak kecil itu bernama Benu. Dia anak paling bodoh yang pernah saya kenal," kata tukang cukur itu kepada sang pengusaha.
"Ah..., yang benar saja, Mas?" tanya sang pengusaha tidak percaya.
"Kalau tidak percaya, sebentar saya buktikan."

Tukang cukur itu merogoh sakunya, lalu mengambil uang 2.000-an dan 1.000-an. Setelah itu, ia memanggil Benu, lalu menyuruh Benu memilih.
"Benu, kemarilah. Kamu boleh memilih salah satu dari uang ini. Terserah kamu ingin memilih yang mana. Ayo, ambillah!"

Benu melihat ke tangan tukang cukur tersebut dengan wajah berbinar, lalu mengambil uang 1.000-an. Dengan perasaan bangga, tukang cukur itu berbalik kepada sang pengusaha.
"Benarkan yang saya katakan tadi? Benu memang anak terbodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saya mengetes dia seperti itu tadi. Dan, selalu saja ia mengambil uang logam yang nilainya lebih kecil."

Sang pengusaha pun terheran-heran melihatnya. Setelah selesai memotong rambut, ia pun pulang. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Benu. Karena merasa penasaran, ia pun memanggil Benu.
"Benu, tadi sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran 2.000-an dan 1.000-an, saya lihat kok yang kamu ambil uang yang 1.000-an? Mengapa tidak ambil yang 2.000-an? Nilainya kan lebih besar dua kali lipat dari yang 1.000-an? tanya sang pegusaha.

"Saya tidak akan dapat uang 1.000 setiap hari kalau mengambil uang 2.000. Sebab, setiap saya mengambil 1.000 dia pasti akan bangga dengan pendapatnya bahwa saya bodoh dan terus penasaran mengapa saya tidak mengambil uang yang 2.000. Kalau saya akhirnya mengambil yang 2.000, berarti permainannya selesai. Lalu, kapan lagi saya dapat uang jajan gratis setiap hari?" jawab Benu sambil tertawa kecil.

Hikmah:
Banyak orang merasa lebih pintar dibandingkan orang lain, sehingga sering menganggap remeh orang lain. Padahal, ukuran kepintaran seseorang hanya Tuhan yang mengetahuinya. Alangkah bijaksananya jika kita tidak menganggap diri sendiri lebih pintar dari orang lain. Di atas langit masih ada langit yang lain.

Senin, 19 Januari 2015

Semua Bersumber dari Pikiran


Di suatu daerah, hiduplah seorang tua yang terkenal bijak. Suatu saat, ia kedatangan tamu.

"Sebenarnya, apa itu perasaan bosan, Pak Tua?" tanya sang tamu.
"Bosan adalah keadaan di mana pikiran menginginkan perubahan, mendabakan sesuatu yang baru, serta menginginkan berhentinya rutinitas hidup," jawab Pak Tua.
Mengapa kita harus merasa bosan?"
Sbab, kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki," jawab Pak Tua lagi.
"Lalu, bagaimana cara menghilangkan kebosanan?" tanya sang tamu.
"Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya."
"Menikmati kebosanan? Bagaimanakah caranya itu? tanya sang tamu keheranan.
"Bertanyalah pada dirimu sendiri mengapa kamu tidak bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?"
"Karena kita juga makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua," jawab sang tamu.
"Benar sekali. Tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu, maka kebosanan pun akan hilang," jelas Pak Tua.
"Lalu, bagaimana menambahkan hal baru itu dalam rutinitas?"
"Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu, kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya biasanya menelepon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa, dan seterusnya."

 Sang tamu itu pun pergi. Namun, beberapa hari kemudian, tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.

"Pak Tua, saya sudah melakukan apa yang anda sarankan, tetapi kenapa saya masih merasa bosan juga?" tanya sang tamu.
"Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan."
"Contohnya?" tanya sang tamu.
"Mainkan permainan yang paling kamu senangi waktu masih kecil dulu."

Lalu, tamu itu pun pergi. Beberapa minggu kemudian, tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua dengan wajah ceria.

"Pak Tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang, saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang, saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?" tanya sang tamu.
"Sebab, segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiran mu menjadi ceria. Sekarang, kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiran mu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan."

Hikmah:
Segala sesuatu itu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan dan berpikir ceria menjadikan kamu ceria. Oleh karena itu, ciptakan pikiran positif setiap saat.